Udah nonton film baru yang menghebohkan belum? No, no, no bukan film Resident Evil baru yang ceritanya maksa abis itu. Bukan juga filmTED yang cukup mengejutkan para orangtua yang sudah telanjur membawa anak-anak di bawah umur untuk menontonnya. Film yang gw maksud ini jauh dari kata box office dari segi pencapaian penghasilan. Jauh pula dari kilauan piala Oscar yang prestisius. Film yang akan gw bahas adalah sebuah film murahan yang sangat tidak artistik, tapi mampu membuat seluruh pandangan umat dunia tertuju padanya. Sebuah film berjudul Innocence of Muslims.
Innocence of Muslims adalah sebuah film asal-asalan yang diproduseri oleh Sam Bacile, yang pada perkembangan selanjutnya berkembang sebuah kabar bahwa Sam Bacile ternyata hanyalah nama samaran (nama aslinya katanya Nakoula Basseley Nakoula). Sutradaranya adalah seorang sutradara film porno, Alan Roberts. Sedikit sinopsis tentang film ini (karena ga’ perlu panjang-panjang juga bahasnya, ga’ penting!), film ini bercerita tentang Nabi Muhammad SAW yang digambarkan di luar pandangan manusia selama ini. Sang Nabi digambarkan agak bodoh, pendukung pedofilia dan homoseksual, serta terdapat adegan hubungan seksual antara si Nabi dengan wanitanya. Semua penggambaran yang sudah pasti salah ini akhirnya menyulut kemarahan mayoritas umat Muslim di dunia. Terjadi aksi protes di mayoritas negara Muslim yang ditujukan untuk kedubes Amerika. Korban jiwa akhirnya jatuh pada aksi protes di Libia.
Sebuah sampah anorganik yang mampu mengubah dunia. Tapi yang namanya sampah anorganik, tetaplah sampah anorganik. Perubahan yang dibawa tentunya adalah perubahan yang membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia. Dan karena anorganik sehingga sulit diurai atau dimusnahkan dalam waktu singkat. Sama halnya dengan film ini. Dampak yang ditimbulkan sangat negatif dan untuk menyelesaikan efek negatif yang telah ditimbulkan membutuhkan waktu yang lama. Jiwa yang tidak bersalah turut terlibat menjadi korban jiwa atas sebuah karya yang tidak bertanggung jawab. Tindakan pembuatan film ini memang tidak sepatutnya dipuji dan didukung. Tetapi apakah pembalasan berupa kekerasan harus dilakukan demi membela sang Nabi?
Ada beberapa tanggapan dari para petinggi ulama. Berikut ini beberapa fatwa yang berhasil gw temukan di beberapa website.
FATWA ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH ALU SYAIKH MUTFI
Menurutnya, jalan terbaik untuk membela Nabi Muhammad SAW adalah dengan mengikuti sunnah-sunnahnya, menyebarkan dakwah, mencontoh kehidupan beliau, dan menyebarkan nilai-nilai Islam.Tindakan tercela dan jahat dalam upaya mengedarkan film yang menghina Nabi Muhammad SAW tidak akan merendahkan kedudukanNabi Shallalahu’alaihi wasallam dan Islam.
Dalam menyikapi tindakan jahat yang seperti ini hendaknya harus sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan As Sunnah. Kaum Muslimin tidak boleh membiarkan kemarahan mereka menjadikan mereka membunuh orang yang tidak bersalah dan menyerang fasilitas umum. Jika umat Islam mudah terpancing emosi, justru musuh-musuh Islam akan tercapai maksud dan tujuan mereka dalam memproduksi film ini. Abdul Aziz menghimbau semua negara dan organisasi internasional untuk mempidanakan tindakan menghina semua nabi dan rasul.
.
FATWA ULAMA WAHABI SALAFI
Ulama dari kalangan Wahabi Salafi Mesir bernama Ahmad Fouad Ashoush mengeluarkan fatwa mati terhadap para pemain dan kru film tersebut via forum-forum internet jihad pada akhir pekan lalu.
‘Para bajingan yang membuat film ini adalah para kafir yang suka berperang,’ cetus Ashoush seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (18/9/2012).
‘Saya mengeluarkan fatwa dan meminta semua pemuda muslim di Amerika dan Eropa untuk melakukan tugas ini, yakni membunuh sutradara, produser dan aktor-aktor serta semua orang yang membantu dan mempromosikan film ini,’ imbuhnya.
.
FATWA DR IMARAH ULAMA AL-AZHAR MESIR
Dr. Imarah menegaskan bahwa marah karena Allah, Rasul dan untuk sesuatu yang sakral dalam agama adalah wajib. Namun ia menekankan bahwa Nabi Muhammad SAW melarang membunuh manusia, meskipun itu non-Muslim. Dr. Imarah mengatakan bahwa Barat menggambarkan Islam seperti fasisme, karena 10% dari gereja-gereja di Eropa ditutup karena berpindah kepada Islam, penggunaan nama ‘Muhammad’ untuk anak yang lahir di Eropa semakin meningkat, dan di sana ada orang yang masuk Islam setiap harinya.
.
So, ada dua pendapat yang saling bertentangan disini. Tetapi mayoritas umat Muslim mengambil tindakan berperang dengan kekerasan untuk melawan penghinaan ini. Kalau menurut gw sebenarnya tindakan kekerasan itu tidak perlu terjadi. Sungguh amat dapat terlihat motif sebenarnya dari pembuatan film ini adalah mengadu domba antar umat agama di dunia. Mengapa gw bilang sungguh amat dapat terlihat? Ya lu liat aja dari kualitas film yang tercipta. Jelek banget dan asal-asalan, kan? Yang penting disini cuma agar Nabi Muhammad SAW terlihat bodoh dan para pengikutnya marah. Seharusnya dari melihat kualitas saja sudah terlihat bahwa yang membuat film ini adalah orang-orang tolol yang ga’ punya otak. Apakah omongan atau pendapat orang yang ga’ punya otak itu wajib kita dengerin? Tentu tidak, kan? Jadi, buat apa kita terpancing hanya karena omongan orang tolol. Justru kalau kita terpancing akan memperlihatkan siapa sebenarnya yang lebih tidak pintar dari orang tolol yang sebenarnya. Disini gw sangat setuju dengan fatwa dari Abdul Aziz yang memilih tidak menanggapi kasus ini dengan kekerasan. Gw yakin bila Nabi Muhammad SAW sendiri masih hidup, dia akan menyuruh para pengikutnya untuk belajar bersabar dan tidak mendendam. Itu adalah kunci dari sebuah perdamaian.
Gw memang bukan termasuk umat Muslim. Tapi bukan berarti gw tidak pernah mengalami kasus pelecehan agama serupa. Gw Katholik danTuhan Yesus adalah objek yang sering dijadikan bahan olokan. Baik itu penghinaan dengan cara yang bodoh maupun yang pintar. Penghinaan yang pintar menurut gw adalah novel Da Vinci Code karya Dan Brown.Dan Brown dengan lihainya menggabungkan sebuah fakta yang cukup realistis dengan kehidupan Tuhan Yesus sehingga orang-orang sempat mempertanyakan keaslian kisah Tuhan Yesus di Alkitab dan membandingkannya dengan versi Dan Brown. Banyak protes yang dilayangkan dari umat Protestan. Tetapi untungnya tidak berujung hingga tindakan kekerasan. Kembali lagi ke sikap yang gw ambil, gw tetap mempercayai iman gw yang percaya bahwa Tuhan Yesus tidak seperti itu. Gw tetap membaca novelnya dengan seksama hingga menonton filmnya dan menjadikannya sebuah bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran bahwa setiap manusia memiliki pandangan dan daya imajinasi terhadap sesuatu hal. Dan semua keanekaragaman itu memang Tuhan-lah yang menciptakan. Tugas manusialah untuk dapat saling tenggang rasa dalam menjalin hubungan antar individu yang berbeda.
.
[?] Am I Innocent enough to write this article? You decide!
