Monday, October 1, 2012

Bukan Pengakuan Maya

Di sebuah gedung perkantoran di malam hari, terlihat seorang pria bernama Andi sedang berjalan menyusuri ruangan kantornya. Sepanjang perjalanan Ia tidak menjumpai seorang pun. Semua kubikal di ruangan itu kosong, hampa menyisakan kertas-kertas berkas yang berserakan di meja yang ditinggalkan pemilik meja. Wajar saja, jam di tangannya telah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Andi memang lembur sendiri malam itu. Deadline presentasi yang harus dishare ke klien keesokan paginya memaksanya untuk menyelesaikan semua bahan presentasinya malam itu juga.

Pintu kaca kantor didorong perlahan. Kantor yang terletak di lantai 9 gedung itu terlihat kurang bersahabat. Penghematan listrik yang diterapkan oleh pihak pengelola membuat tak semua sudut lorong mendapatkan pencahayaan yang sempurna. Siluet-siluet dari elemen penghias ruangan membayangi dinding sepanjang lorong. Tibalah Andi di depan pintu lift dan Ia segera menekan tombol down. Diliriknya huruf di atas pintu yang menunjukkan B, pertanda bahwa lift masih berada di lantai basement.

Kriiiiieeeet…blammmm.

Andi terkejut mendengar bunyi pintu terbuka dan menutup secara tiba-tiba. Ia segera mencari asal muasal dari bunyi mengejutkan itu. Kepalanya menoleh ke belakang dan terlihatlah sesosok pria keluar dari toilet. Andi mengenal pria itu. Kevin, nama pria itu. Seorang pria bertubuh kecil dan berkulit putih yang juga kerja di perusahaan tempat Andi bekerja, hanya saja berbeda divisi. Ada keunikan yang terlihat dari gerak-gerik Kevin, kemayu. Semua gerak-gerik tubuhnya sangat feminin, begitu pula dengan tutur bahasanya. Dan Andi tidak menyukai tatapan mata Kevin. Tatapan penuh arti yang menyiratkan ‘I know you’. Kevin tahu. Kevin pasti tahu bahwa Andi juga seorang gay dan itulah yang membuat Andi tidak nyaman. Andi tidak ingin rahasianya terbuka kepada siapapun. Hari di awal Kevin masuk ke kantor itu serasa mimpi buruk buat Andi.

Andi tidak berbicara sepatah katapun ketika Kevin berdiri di sebelahnya. Melihatnya pun tidak. Dan Ia tahu bahwa Kevin diam-diam tersenyum penuh arti melihat perilaku tidak nyaman Andi. Lift akhirnya sampai juga ke lantai 9. Pintu lift terbuka dan kosong. Mereka segera memasuki ruangan lift. Andi mulai berkeringat. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin segera keluar dari ruangan itu secepat mungkin.

‘Kamu Gey?’

Andi menoleh terkejut mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir kecil Kevin. Sementara Kevin tetap menatapnya datar.

‘Kamu Gey?’, tanya Kevin lagi dengan mimik wajah yang serius.

‘Maa.. maksud lu apa ngomong gitu? Gu..gua bukan yang seperti yang lu kira ya!’, jawab Andi ketus.

Wajah Kevin yang semula heran berubah menjadi senyuman nakal. Dengan sedikit menggoda Ia pun berkata lagi kepada Andi.

‘Kamu turun di lantai G?’, tanya Kevin sembari menunjuk-nunjuk tombol G di sisi kanan pintu lift.

Wajah Andi memerah. Ia tidak bisa berkata-kata. Keparnoannya akan terbukanya jati dirinya membuat Ia menjadi salah persepsi. Hanya anggukan saja yang Ia lakukan dan sisanya Ia hanya menunduk. Kevin segera menekan tombol G sembari tersenyum kecil. Sesaat setelah pintu lift terbuka Andi segera mempercepat langkahnya keluar dari ruangan itu. Sesegera mungkin menghilang dari hadapan Kevin. Kevin hanya memandangnya dari kejauhan di dalam lift yang pintunya segera menutup untuk segera menuju lantai basement, lantai tujuan Kevin. Dan dengan cepat Kevin mengeluarkan handphone dari saku celananya.

‘Eh cyiiiiin. Boooook ik’ baru aja niy ngalamin kejadian lucu di dalam lift. Xixixixi. ngakak deh ik”, cerita Kevin riang.

.

Itu bukan cerita maya loh. Itu cerita benar-benar terjadi di salah satu gedung perkantoran di Jakarta. Pelakunya bukan gw kok. Kantor gw ga’ ada liftnya dan gw ga’ parnoan sama jati diri gw. Kebanyakan gay yang discreet (masih menyembunyikan jati diri sebagai seorang gay) emang begitu. Mereka berusaha terlihat manly dan macho di hadapan semua orang. Mereka tidak ingin semua orang tahu tentang kebenaran di balik perilaku wajar mereka. Dan mereka akan merasa begitu cemas bila di kantor mereka ada orang lain yang juga memiliki orientasi yang sama tetapi sudah memutuskan untuk open for public bahwa ‘I am gay’. Sebisa mungkin mereka yang discreet pasti akan menjaga jarak, bahkan tidak berhubungan dengan gay yang sudah open di lingkungan kerja tersebut. Buat mereka siy gw doakan saja semoga menikmati permainan heart attack yang setiap saat bisa mereka nikmati.

Kalau gw sih ga’ pernah ngalamin kejadian itu semenjak gw dah open sama teman-teman gw. Dulu sebelum open sih sempat sedikit tertampar di hati kalau ada pembicaraan teman-teman gw yang berhubungan dengan gay, bencong, banci, dan sejenisnya. Kalau sekarang sih sutra lah ya buuuuuu. Everybody know me lagh. Ooops except my parent and my family. Terhitung sejauh ini gw mengalami tiga fase coming out.



Coming out 1
My office   04.03.2008   10.35 am

Udin : Diiiit, lu balik lagi ke kantor ini?Waaaah senangnya.

Ditadee : Iyaaa (cipika cipiki sambil melirik ke lemari kubikal gw). Kamu siapa?

Gw : (senyum manly) Ujep…

Ditadee : Art?

Gw : Iya art director…

Ditadee : Ohhh…Welcome to this office.


Gw masuk sehari sebelum wanita ini masuk kembali ke kantor ini. Dan ketika gw melihat sosok wanita ini, gw merasa agak sedikit terganggu dengan kehadiran wanita ini. Ada sebuah aura menusuk dari caranya dia memandang diriku. Gw merasa wanita ini pasti tahu sesuatu tentang gw. Terancam, seperti layaknya Andi, gw terancam.

Hari demi hari gw berusaha berjuang agar jati diriku sebagai gay tidak terkuak di kantor ini. Dan sepanjang itu pula Ditadee semakin giat menggodaku. Salah satu celetukannya yang membuat gw terkejut adalah ketika para wanita sedang asyik berfoto-foto menggunakan iphone 2G terbaru Udin yang sensasional kala itu. Tanpa disadari jari kelingking gw terangkat ke atas ketika memegang iphone itu. Oooops that’s a gay reflect.

‘IIIh kok kelingkingnya melenting?’, celetuk Ditadee.

Celetukan itu membuat wajah gw merah seketika dan buru-buru menurunkan kelingking ke posisi manly. Senyuman-senyuman kecil tersirat dari wajah wanita-wanita yang berada di hadapan gw yang bersiap untuk diabadikan oleh kamera iphone tapi yang terjadi justru wajah panik gw lah yang berhasil terabadikan di otak mereka.

Ditadee pulalah yang berani memanggil gw dengan sebutan ‘Cong’. Padahal kalau pengakuan dia sih, cong disini maksudnya adalah ‘Pocong’, bukan ‘Bencong’. Dasar copywriter, begitu pintarnya engkau memainkan kata-kata. Akhirnya gw memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan semua itu. Gw sudah lelah menutupi semuanya, toh gw pikir semua orang pasti sudah tahu tanpa gw harus mengadakan konferensi pers besar-besaran. Semua pertanyaan mereka yang mulai menjurus ke arah gay mulai gw jawab. Perlahan-lahan semakin lugas dan walaaaaaaa…akhirnya gw open deh sampai sekarang ini. Jadilah gw sebagai satu-satunya ‘Cong’ yang berani mendeklarasikan diri di kantor ini. Aksi reaksi yang berbeda gw dapatkan semenjak berita tentang jati diriku terkuak mulai menyebar. Ada yang mendukung, ada yang tidak perduli, bahkan ada yang mencibir. Semuanya itu gw terima sebagai sebuah resiko dari sebuah pengakuan. This is my life so whatever deh lu pada mau ngomongin gw apa.



Coming out 2
Sandwich Bakar Puri Indah  29.06.2008   09.30 pm

Pengakuan yang kedua ini memang sudah direncanakan dua minggu sebelum hari H. Targetnya pun sudah jelas, my sist. Gw menganggap pengakuan ini perlu dilakukan karena sebagai orang terdekat gw di Jakarta dia harus tahu. Masa teman-teman kantor gw sudah tahu, dia as my sister malah ga’ tahu. Adik macam apa gw ini. Alhasil dua minggu sebelum malam pengakuan itu gw memberikan stimulus-stimulus untuk membangkitkan pemikirannya bahwa ada sesuatu yang janggal tentang adiknya.

Buku novel tentang gay gw pinjamkan. DVD film tentang gay juga gw pinjamkan. Ga’ cukup kuat akan hal itu, gw beri stimulus tambahan berupa perubahan sikap.

‘Cik, arah jam 2 lucu deh’, kata gw sambil melirik koko-koko lucu yang duduk di gereja.

‘Jangan langsung noleh. Yang sebentar lagi jalan ke kelas ini imut’, kata gw sambil melirik lelaki imut yang mau ikut kelas gym.


Tapi kok gw ga’ merasa ada perubahan dari sikap my sist ya? Dia malah lempeng-lempeng aja menghadapi sikap gw yang sudah ga’ wajar. Dia malah menanggapinya dengan santai dan membahas novel ataupun film yang sudah dia simak bersama gw. Semakin heran jadinya. Ini anak polos atau pura-pura polos? Tibalah hari yang memang sudah gw rencanakan sejak semula. Malam itu gw membuka pembicaraan.

‘Cik, kamu ngerasa ada yang ga’ biasa ga’ tentang gw?’, tanya gw penuh arti.

‘Apaan ya?’, balasnya bertanya.

‘Nggg…Kamu ga’ ngerasa ada yang berbeda dengan gw?’

‘Apaan sih? Ga’ ngerti deh gw.’, jawabnya singkat.

‘Hmmmm okeh. Gini deh. Dua minggu terakhir ini gw ada ngasih lu pinjem sesuatu’

‘Iya. DVD. Novel.’, jawabnya lagi.

‘Nah, dari kesemuanya itu coba kamu tarik sebuah persamaan. Ada sesuatu yang sama dari barang yang gw pinjamkan ke lu.’, kata gw memancing.

Berpikir. My sist mulai berpikir maksud perkataan dari adik tercintanya ini. Perubahan mimik wajah terjadi dalam tiga fase. Akhirnya kata-kata itu terucap juga dari bibirnya.

‘Gay?’

‘Yup.’, jawabku sambil tersenyum.

‘Are you gay?’, tanyanya dengan wajah kaget.

‘Yup.’

‘How come?’, tanyanya kembali dengan wajah setengah tidak percaya.

‘Ya ampun, cik. Masa kamu ga’ nyadar siy. Dari kecil gw udah berbeda lagi. Lagiankan gw akhir-akhir ini juga ngomentarin cakep, lucu, imut bukan ke cewe lagi, tapi ke cowo’, gw menjelaskan.

‘Yaaah gw pikir lu unisex. Bisa mengomentari segala jenis kelamin.’

‘What? Jadi kalau gw ga’ ngaku, lu ga’ bakalan nyangka gw gay?’, tanyaku kembali dan sekarang mimik wajah gw yang menjadi setengah tidak percaya.

‘Iyaaaaaaaa.’, jawabnya polos.



Malam itu berlanjut menjadi sesi interview bertema ‘Apakah gay itu?’ dengan pembicara seksolog Ujep. Gw buka semua cerita tentang kehidupan gay, aktivitas seksual, sampai ke kehidupan gw sendiri. Dia sangat antusias untuk mengetahui lebih banyak tentang dunia gay. Dan gw dengan senang hati memberi segala informasi yang dia butuhkan. Malam itu gw sungguh bahagia karena my sist bisa menerima gw apa adanya dan mendukung semua keputusan gw. Love you, dear.


Coming out 3
Food Festival Surabaya  23.02.2010   08.15 pm

Pengakuan ketiga juga sudah direncanakan sebelum rencana liburan panjang ke Surabaya. Kini saatnya teman-teman di Surabaya mengetahuinya. Malam itu kita menghabiskan waktu di tempat makan baru (bagi gw baru, bagi mereka yang di Surabaya sih kagak) Surabaya. Seusai menghabiskan makanan yang dipesan, kita memulai topik pembicaraan mengenai kehidupan percintaan masing-masing.

Vin dengan kebimbangannya di antara dua pilihan.

Anj yang heboh dengan kisah tiga lelakinya.

Pacar baru Step yang benar-benar tidak disangka.

Aml yang baru putus.

‘Rasa suka yang salah sama siapa nih, Jep?’, tanya Vin

Kaget campur deg-degan mendengar pertanyaan itu. Bingung ingin membuka pembicaraan dengan kata-kata apa ya yang tepat untuk mengawali rencana publikasi ini.

‘Iya salah aja.’, jawab gw sambil tetap berpikir.

‘Salahnya dimana?’, tanya Vin lagi.

‘Bukan jadi selingkuhan orang, kan?’, sergah Aml dan anak-anak lainnya pun tertawa.

‘Yah, gw mencintai suaminya orang.’, jawabku cepat.

Dalam sekejap tiba-tiba suara tawa itu menghilang. Semuanya menjadi diam. Dan gw juga jadi bingung kok malah diam. Any respon, please? Sampai akhirnya Vin mengalihkan pembicaraan ke topik lainnya dan gw menjadi semakin bingung. Mereka ini pada ngerti ga’ ya kalo maksud perkataan gw itu adalah gw gay. Sesekali gw bertanya sambil berbisik ke Anj ketika Vin dan Aml pergi ke toilet.

‘Lu ngerti ga’ gw ngomong apa?’, tanya gw.

‘Iya. Gay, kan?’, jawab Anj.

‘Iya. Lu ga’ kaget?’, tanya gw lagi.

‘Ga. Gw dah feeling kok.’, jawab Anj sambil tersenyum.

Tak cukup puas dengan jawaban Anj, gw memutuskan untuk bertanya pada Deb di mobil. Deb datang paling akhir malam itu dan karena gw menumpang di rumahnya selama di Surabaya, gw ikut dia pulang.

‘Deb, kalau gw bilang gw lagi suka sama suaminya orang, lu ngerti ga’ maksudnya apa?’, tanya gw tiba-tiba.

‘Iya. Kamu gitu, kan?’, jawab Deb.

‘Gitu means gay.’

‘Iya. Gitu.’, jawab Deb lagi.

‘Anak-anak kok diam aja ya, Deb. Mereka pada ngerti atau ga’ ngerti ya?’

‘Ngertilah. Vin udah curiga kok Jep. Tenang aja. Kita menerima kamu apa adanya kok.’, jawab Deb menenangkan.

Gw berharap reaksi mereka lebih heboh. Gw berharap ada pertanyaan-pertanyaan dari mereka tentang gw. Yang terjadi malah sebaliknya, semuanya menjadi diam dan semakin membingungkan diriku apakah mereka mengerti atau tidak. Sebelum tidur akhirnya gw memutuskan untuk SMS Vin. Gw bertanya kok dia lempeng-lempeng aja. Kok dia ga’ surprise. Kok dia diam saja. Dan jawabannya adalah…

‘Ga’ perlu lu publish gw udah tau dari jaman baheula kaleeee. Yah I’m glad to hear that. Untunglah udah nemu arahnya mau kemana. Jadi kalau gw mau kenalin orang juga ga’ bingung. Yang jadi pertanyaan cuma satu sekarang, trus si Ken itu apaan dong?’

Haiissshhh pacar cewe gw dibawa-bawa buat jadi pertanyaan.Xixixixi. She is my ex-girlfriend lagh. I love her but I broke up with her karena dia terlalu cemburuan. Demikian konferensi pers dari saya mengenai pertanyaan itu. Ada pertanyaan lain?;D



Kesimpulan yang gw tarik adalah sebenarnya mereka semua sudah tahu sejak dulu, tetapi mereka memutuskan untuk tidak bertanya (Hal ini tidak berlaku buat my sist yah;p). Mereka memutuskan untuk menunggu gw sendiri untuk terbuka kepada mereka. Hasilnya? Kini gw semakin akrab dengan mereka karena rahasia yang selama ini agak membentengi gw supaya lebih lepas telah sirna. Ga’ ada ruginya kok untuk open dengan orang lain. Perihal respon yang bakal kamu terima setelah pengakuan itu dianggap lalu saja. Toh yang menjalankan hidup lu ya lu sendiri kan, bukan orang lain. Someday pasti gw akan open to my own family kalau waktunya tepat. Keputusan gw sudah bulat;)

Jadi, kapan giliranmu tiba?

.

[?] Surpriiiiisseeeeeee…I am gay

No comments:

Post a Comment

Followers

Translate

Blogger templates