a.k.a MARAH…
Apa yang kamu lakukan kalau lagi marah?
Tiap orang pasti punya cara yang berbeda-beda dalam menghadapi situasi marah ini. Ada yang langsung mengeluarkan kata-kata kotor, sumpah serapah nan indah. Atau mungkin langsung menonjolkan bisep dengan diiringi kata-kata ancaman. Atau mungkin juga memendam dalam hati untuk dijadikan dendam, dibalas kemudian hari. Beda orang, beda personal, beda cara marahnya juga.
Gw siy sebenarnya tipikal orang yang lumayan bisa mengendalikan emosi gw. Gw akan berusaha untuk terlihat baik-baik saja walaupun gw ga’ suka dengan suatu keadaan yang ada. Kata-kata yang keluar dari mulut gw akan terkesan datar dan berusaha mencari solusi untuk memecahkan masalah yang ada. Tapi kalau gw lagi stress atau berada dalam kondisi dihantam masalah bertubi-tubi secara bersamaan, gw bisa MELEDAK!
MELEDAK disini adalah dalam artian gw akan mengeluarkan kata-kata setajam silet, golok, parang, samurai dengan lengkingan nada hingga oktaf ke 7. Kalau gw udah kayak gitu, berarti mengertilah. Lebih baik menyingkir daripada akan terjadi perang dunia. Itu yang akan gw lakukan kalau gw ga’ terlalu respect sama orang yang bersangkutan. Karena apa? Karena gw berpikir who the hell are you berani-beraninya ruin my day dengan semua masalah yang lu bebankan ke gw. Senggol bacok!
Tapi apa jadinya kalau yang membuat gw marah adalah orang yang gw sayangi? Orang yang gw hargai keberadaannya? Gw akan memilih untuk diam. Diam untuk mencari ketenangan. Diam hingga kepala dan hati gw dingin sehingga bisa mencerna masalah yang ada. Dan dari semua itu yang terpenting adalah, gw diam supaya gw tidak mengeluarkan kata-kata yang akan menyakitkan orang yang gw sayangi itu. Susah memang untuk meredakan amarah dengan cara diam ini. Karena sebenarnya mulut masih ingin berbicara mengeluarkan kata-kata protes atas keadaan yang ada hanya saja gw berusaha mengerem supaya tidak keluar. Bagaikan menahan ejakulasi di kala klimaks (loh kok?;) Semuanya itu gw lakukan demi kebaikan bersama, walaupun tak jarang dari pihak yang bersangkutan terus memborbardir dengan beragam pertanyaan kenapa gw diam saja dan tidak merespon ucapannya. Maaf tapi memang itulah gw.
Gw jadi ingat pas dulu mengetahui kebenaran tentang Mikael yang ternyata sudah punya tunangan. Gw marah. Marah sekali. Kecewa karena merasa dibohongi. Yang gw lakukan adalah selama seminggu lebih gw hanya diam. Menunggu apakah ada penjelasan atau sebuah pengakuan dari dia. Dan ternyata bukan pengakuan yang gw dapatkan melainkan kata-kata marah dengan nada tinggi yang seolah-olah membuat gw menjadi pihak yang salah. Gila! Bukan gw yang salah kenapa jadi gw yang dibuat salah. Akhirnya gw labrak aja sekalian dan gw keluarkan semua kata-kata makian dan sumpah serapah tingkat tertinggi yang gw punya. Giliran dia yang terdiam, mungkin shock darimana gw mengetahui kebenaran itu dan mungkin juga shock mendengar kata-kata yang keluar dari bibir gw yang seksi ini;D
Jadi, dear my all best friend di mana pun kalian berada. Kalau gw diam pada saat kita sedang mengalami sebuah pertengkaran, itu bukan berarti gw benci sama lu sampai-sampai gw ga’ mau ngomong sama lu. Sebaliknya, justru karena gw sayang banget sm lu supaya kata-kata ga’ enak gw ga’ sampai di telinga kalian. Gw ga’ pengen hubungan memburuk hanya karena kemarahan sesaat. Lebih baik meluangkan waktu sejenak untuk cooling down dengan end result yang baik di kedua belah pihak daripada mengeluarkan kemarahan yang akhirnya akan berujung dengan sebuah kondisi ga’ enak yang berkepanjangan, kan?;)
Apa yang kamu lakukan kalau lagi marah?
Tiap orang pasti punya cara yang berbeda-beda dalam menghadapi situasi marah ini. Ada yang langsung mengeluarkan kata-kata kotor, sumpah serapah nan indah. Atau mungkin langsung menonjolkan bisep dengan diiringi kata-kata ancaman. Atau mungkin juga memendam dalam hati untuk dijadikan dendam, dibalas kemudian hari. Beda orang, beda personal, beda cara marahnya juga.
Gw siy sebenarnya tipikal orang yang lumayan bisa mengendalikan emosi gw. Gw akan berusaha untuk terlihat baik-baik saja walaupun gw ga’ suka dengan suatu keadaan yang ada. Kata-kata yang keluar dari mulut gw akan terkesan datar dan berusaha mencari solusi untuk memecahkan masalah yang ada. Tapi kalau gw lagi stress atau berada dalam kondisi dihantam masalah bertubi-tubi secara bersamaan, gw bisa MELEDAK!
MELEDAK disini adalah dalam artian gw akan mengeluarkan kata-kata setajam silet, golok, parang, samurai dengan lengkingan nada hingga oktaf ke 7. Kalau gw udah kayak gitu, berarti mengertilah. Lebih baik menyingkir daripada akan terjadi perang dunia. Itu yang akan gw lakukan kalau gw ga’ terlalu respect sama orang yang bersangkutan. Karena apa? Karena gw berpikir who the hell are you berani-beraninya ruin my day dengan semua masalah yang lu bebankan ke gw. Senggol bacok!
Tapi apa jadinya kalau yang membuat gw marah adalah orang yang gw sayangi? Orang yang gw hargai keberadaannya? Gw akan memilih untuk diam. Diam untuk mencari ketenangan. Diam hingga kepala dan hati gw dingin sehingga bisa mencerna masalah yang ada. Dan dari semua itu yang terpenting adalah, gw diam supaya gw tidak mengeluarkan kata-kata yang akan menyakitkan orang yang gw sayangi itu. Susah memang untuk meredakan amarah dengan cara diam ini. Karena sebenarnya mulut masih ingin berbicara mengeluarkan kata-kata protes atas keadaan yang ada hanya saja gw berusaha mengerem supaya tidak keluar. Bagaikan menahan ejakulasi di kala klimaks (loh kok?;) Semuanya itu gw lakukan demi kebaikan bersama, walaupun tak jarang dari pihak yang bersangkutan terus memborbardir dengan beragam pertanyaan kenapa gw diam saja dan tidak merespon ucapannya. Maaf tapi memang itulah gw.
Gw jadi ingat pas dulu mengetahui kebenaran tentang Mikael yang ternyata sudah punya tunangan. Gw marah. Marah sekali. Kecewa karena merasa dibohongi. Yang gw lakukan adalah selama seminggu lebih gw hanya diam. Menunggu apakah ada penjelasan atau sebuah pengakuan dari dia. Dan ternyata bukan pengakuan yang gw dapatkan melainkan kata-kata marah dengan nada tinggi yang seolah-olah membuat gw menjadi pihak yang salah. Gila! Bukan gw yang salah kenapa jadi gw yang dibuat salah. Akhirnya gw labrak aja sekalian dan gw keluarkan semua kata-kata makian dan sumpah serapah tingkat tertinggi yang gw punya. Giliran dia yang terdiam, mungkin shock darimana gw mengetahui kebenaran itu dan mungkin juga shock mendengar kata-kata yang keluar dari bibir gw yang seksi ini;D
Jadi, dear my all best friend di mana pun kalian berada. Kalau gw diam pada saat kita sedang mengalami sebuah pertengkaran, itu bukan berarti gw benci sama lu sampai-sampai gw ga’ mau ngomong sama lu. Sebaliknya, justru karena gw sayang banget sm lu supaya kata-kata ga’ enak gw ga’ sampai di telinga kalian. Gw ga’ pengen hubungan memburuk hanya karena kemarahan sesaat. Lebih baik meluangkan waktu sejenak untuk cooling down dengan end result yang baik di kedua belah pihak daripada mengeluarkan kemarahan yang akhirnya akan berujung dengan sebuah kondisi ga’ enak yang berkepanjangan, kan?;)
.
[?] inhale…exhale…
No comments:
Post a Comment